tasawufDasar
بداية الهداية

Bidāyatul Hidāyah

Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali (w. 505 H)

Panduan adab harian seorang muslim, penyucian batin, dan tata krama pergaulan. Risalah akhlak dan tasawuf dasar karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali.

17px

Pendahuluan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Kitab Bidāyatul Hidāyah (Permulaan Jalan Hidayah) adalah karya monumental dari Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H).

Kitab ini merupakan ringkasan praktis dari masterpiece beliau Iḥyā' 'Ulūmiddīn. Imam Al-Ghazali menyusun kitab ini sebagai pedoman harian bagi seorang penuntut ilmu agar ilmunya membuahkan amal shaleh, ketakwaan, dan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs).

Imam Al-Ghazali membagi kitab ini ke dalam tiga bagian utama:

  1. Qismul Awwal: Adab Ketaatan (Al-Ithā'ah) — rutinitas amal ibadah dari bangun tidur hingga kembali tidur.
  2. Qismuts Tsāni: Menjauhi Maksiat (Ijtinābul Ma'āshī) — menjaga anggota tubuh dan hati dari dosa.
  3. Qismuts Tsālits: Adab Pergaulan (Adabul Mu'āsyarah) — tata krama berinteraksi dengan sesama makhluk dan Sang Khaliq.

Bagian 1: Niat Menuntut Ilmu

Matan

اعْلَمْ أَيُّهَا الحَرِيصُ عَلَى اقْتِبَاسِ العِلْمِ، أَنَّكَ إِنْ كُنْتَ تَقْصِدُ بِالعِلْمِ المُنَافَسَةَ وَالمُبَاهَاةَ وَالتَّقَدُّمَ عَلَى الأَقْرَانِ، وَاسْتِمَالَةَ وُجُوهِ النَّاسِ إِلَيْكَ، وَجَمْعَ حُطَامِ الدُّنْيَا؛ فَأَنْتَ سَاعٍ فِي هَدْمِ دِينِكَ، وَإِهْلاكِ نَفْسِكَ، وَبَيْعِ آخِرَتِكَ بِدُنْيَاكَ.

Terjemah

Ketahuilah wahai orang yang bersemangat dalam menuntut ilmu: jika tujuanmu mencari ilmu adalah untuk berlomba-lomba (bersaing), berbangga-bangga, mengungguli teman sebaya, menarik perhatian manusia kepadamu, dan mengumpulkan kemewahan dunia; maka sejatinya engkau sedang berusaha meruntuhkan agamamu, membinasakan dirimu sendiri, dan menjual akhiratmu demi duniamu yang fana.

Syarah Ringkas

Ilmu adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan alat untuk mencari popularitas atau kedudukan sosial. Niat yang lurus (ikhlās) adalah pondasi utama keberkahan ilmu. Tanpa niat yang benar, ilmu justru menjadi bumerang yang mencelakakan penuntutnya di akhirat kelak.


Bagian 2: Adab Bangun Tidur

Matan

فَإِذَا اسْتَيْقَظْتَ مِنَ النَّوْمِ، فَاجْتَهِدْ أَنْ تَكُونَ أَوَّلَ مَا يَلْهَجُ بِهِ لِسَانُكَ وَقَلْبُكَ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى، فَتَقُولُ: «الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ». وَلْيَكُنْ عَزْمُكَ عِنْدَ انْتِبَاهِكَ أَنْ تَبْتَدِئَ يَوْمَكَ بِطَاعَةِ رَبِّكَ.

Terjemah

Apabila engkau bangun dari tidur, bersungguh-sungguhlah agar hal pertama yang terucap oleh lisan dan hatimu adalah dzikir mengingat Allah Ta'ala. Ucapkanlah: "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami (tidur), dan hanya kepada-Nya lah tempat kembali." Dan jadikan tekadmu saat terjaga adalah mengawali harimu dengan ketaatan kepada Tuhanmu.

Syarah Ringkas

Memulai hari dengan rasa syukur dan kesadaran ruhani menjaga kestabilan jiwa sepanjang hari. Tidur diibaratkan kematian kecil, dan bangun tidur adalah kesempatan kedua yang Allah anugerahkan untuk menambah bekal kebajikan.


Bagian 3: Menjaga Tujuh Anggota Badan dari Maksiat

Matan

وَاعْلَمْ أَنَّ التَّقْوَى عِبَارَةٌ عَنِ امْتِثَالِ أَوَامِرِ اللَّهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيهِ، وَجُمْلَةُ النَّوَاهِي تَرْجِعُ إِلَى حِفْظِ جَوَارِحِكَ السَّبْعَةِ: العَيْنِ، وَالأُذُنِ، وَاللِّسَانِ، وَالبَطْنِ، وَالفَرْجِ، وَاليَدَيْنِ، وَالرِّجْلَيْنِ، فَإِنَّهَا رَعَايَاكَ الَّتِي تُسْأَلُ عَنْهَا.

Terjemah

Ketahuilah bahwa ketakwaan adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dan pokok dari menjauhi larangan itu bermuara pada menjaga tujuh anggota badanmu:

  1. Mata — dari memandang yang haram atau melihat kekurangan sesama
  2. Telinga — dari mendengarkan ghibah, fitnah, dan kebatilan
  3. Lisan — dari dusta, ingkar janji, celaan, dan perkataan sia-sia
  4. Perut — dari mengonsumsi makanan haram dan syubhat
  5. Kemaluan — dari perbuatan zina dan fahsya'
  6. Kedua Tangan — dari menyakiti makhluk atau mengambil hak orang lain
  7. Kedua Kaki — dari melangkah menuju kemaksiatan

Sebab ketujuh anggota tubuh ini adalah amanah dan rakyat di bawah kepemimpinanmu yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.


Bagian 4: Adab Pergaulan dengan Sesama

Matan

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ: لَا تُعَامِلْ أَحَدًا إِلَّا بِمَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلَكَ بِهِ، وَلَا تَنْتَقِصْ أَحَدًا مِنْ خَلْقِ اللَّهِ، وَلَا تَرَ نَفْسَكَ خَيْرًا مِنْ غَيْرِكَ، بَلِ اعْتَقِدْ أَنَّ الجَمِيعَ خَيْرٌ مِنْكَ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى.

Terjemah

Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia: janganlah engkau memperlakukan siapapun melainkan dengan perlakuan yang engkau sukai jika diperlakukan kepadamu. Janganlah merendahkan seorang pun dari makhluk ciptaan Allah, dan jangan sekali-kali memandang dirimu lebih baik dari orang lain; melainkan yakinlah bahwa orang lain bisa jadi jauh lebih mulia di sisi Allah Ta'ala.


Penutup

Kitab Bidāyatul Hidāyah mengajarkan bahwa hidayah Allah tidak akan sempurna diraih melainkan oleh mereka yang memadukan kebersihan ilmu (fiqih zahir) dengan kelembutan akhlak dan keikhlasan hati (tasawuf batin).


Referensi: Kitab Bidāyatul Hidāyah, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali. Tahqiq: Dr. Muhammad Abdul Qadir Ahmad.